Jumat, 17 Agustus 2012

UNGKE DAN MOMO BELUM MERDEKA!!!


Beberapa pemuda remaja yang berasal dari etnik Sangihe Talaud Sitaro- SATAS- yang bekerja di sektor jasa sebagai buruh kasar di toko-toko di Manado, oleh majikan mereka dipanggil "ungke" dengan nada miring, yang perempuan dipanggil "momo" dengan nada yg setengah merendahkan martabat mereka hanya karena kedudukan mereka selaku pekerja toko dan pembantu rumah tangga, Hal semacam ini sengaja dikonstruksikan secara sosial berada pada level paling rendah dari derajat kemanusiaan, sehingga terbangun stereotype terhadap identitas ungke dan momo.

Ungke (sebutan anak laki-laki etnik Siau) dan Momo (sebutan anak perempuan etnik Sangihe) adalah sapaan istimewa dalam tradisi yang santun bagi warga Sangihe di kampung halaman mereka. Di kota Manado kini menjadi fenomena sosial yang cenderung bergeser ke stereotipe (stigma negatif) yang bertentangan dengan nilai-nilai hakikinya.

Ungke dan Momo belum merdeka. padahal Ungke dan Momo telah berjasa memberikan kontribusi besar bagi kemakmuran ekonomi para majikan. Para majikan telah memberikan manfaat bagi pembangunan kota Manado. Lalu mengapa pemerintah kota tidak memberi perhatian serius pada upaya untuk mengangkat martabat Ungke dan Momo?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar