Rabu, 19 September 2012

BROKEN HOME SEBAGAI FENOMENA HANCURNYA PERADABAN MANUSIA (Tinjauan Sosiologis Terhadap Perubahan Struktur Keluarga)

Masyarakat sebagai suatu sistem akan terus bergerak dan hidup bilamana komponen-komponen pembentuk sistem masih dapat berfungsi. Komponen paling mendasar dari sistem masyarakat adalah keluarga. Pada mulanya, peradaban manusia terbentuk dalam rupa keluarga. Sejak manusia meninggalkan zaman promiscuitas (kawin dengan banyak pria atau wanita tanpa ikatan perkawinan) dan membentuk keluarga melalui ikatan perkawinan, maka sejak saat itu keluarga (nuclear familly atau keluarga inti) memberi sumbangan yang sangat besar bagi keteraturan sosial. Kondisi ini terjadi kurang lebih ratusan bahkan ribuan abad yang lalu dalam sejarah masyarakat dan bangsa-bangsa di dunia.

Melalui keluarga, kerjasama seorang manusia dengan manusia lainnya menjadi lebih mudah dilakukan. Keluarga benar-benar menjadi lembaga utama dalam bidang produksi. Boleh dikata, peradaban manusia dalam kehidupan bermasyarakat terwujud ketika perkumpulan keluarga-keluarga saling mengikat dan membentuk jaringan sosial yang lebih luas. Bentuk ini didefinisikan oleh para ahli sebagai Keluarga Luas (extended familly). 

Pada abad ke 18 terjadi revolusi industri. Teknologi membantu manusia dalam bidang produksi. Kemudian faktor manusia mulai kurang difungsikan. Bahkan manusia lebih condong mengharapkan teknologi dalam memecahkan pelbagai masalah dan kebutuhannya. Pada akhir abad 19 atau awal abad ke 20 ketika pesatnya perkembangan teknologi semakin tak terbendung, zamanpun mulai bergerak ke industrialisasi. Di kota-kota besar dan di negara-negara yang memproduksi teknologi dalam kapasitas besar, telah mengalami perkembangan yang luar biasa cepat mengubah struktur wilayah pemukiman dan gaya hidup manusia. Urbanisasi meningkat, budaya-budaya tradisional bergeser, tanah dikuasai oleh pemilik modal besar, petani kecil kehilangan tanah untuk memproduksi kebutuhan dasar yang diperlukan mereka, laut dikuasai oleh pemilik modal sehingga nelayan kesulitan mencari ikan. Zaman benar-benar berubah dari masyarakat produksi menjadi masyarakat konsumsi. 

Hanya dalam hitungan kurang dari 2 abad lamanya, teknologi mampu mengubah bentuk muka masyarakat menjadi lain dari sebelumnya. Kepercayaan pada sesama manusia sebagai syarat utama bagi manusia untuk bisa melangsungkan interaksi sosialnya mulai luntur. Simpul-simpul yang menghubungkan ikatan keluarga dengan keluarga yang lainnya pudar. Bahkan hubungan suami isteri pun harus berakhir pada situasi broken home atau sekurang-kurangnya menjelma menjadi keluarga dengan struktur muka yang baru, yang disebut oleh orang Amerika sebagai Single Parent. Jika dahulu kala Keluarga Luas dapat dipimpin oleh satu orang kepala keluarga, kemudian menyempit luasannya pada Keluarga Inti yang beranggotakan 3 sampai 4 orang yang dipimpin oleh satu kepala keluarga, bahkan kini sebagai dampak dari Broken Home sudah ada keluarga dengan satu anak dan satu kepala keluarga. Di kemudian hari, sangat mungkin keluarga sudah tidak ada lagi hingga keadaan dunia akan menjadi anomi (tanpa nilai).
Amerika dan negara-negara modern lainnya yang beraliran kapitalis telah sukses memproduksi bentuk baru keluarga modern ini. Sementara negara-negara sosialis dengan pola kerjasama yang solid berubah bentuk menjadi separuh materialistis yang mendasari tindakan individu maupun tindakan sosial berdasarkan pada materi seperti halnya China. Bagaimanapun, landasan kerjasama China dalam sistem kekeluargaan yang bercorak materialistis itu berbeda dengan pola budaya bangsa-bangsa di Indonesia yang sosialis-komunal. Negara-negara yang mempunyai kemiripan pola budaya dengan Indonesia rata-rata mengalami perekonomian yang rapuh dan belum menemukan bentuk aslinya, meskipun kini sedang ada upaya untuk merevitalisasikan kebudayaan secara holistik dalam konteks kehidupan bernegara guna menemukan cetak biru kebudayaan nasional. Mudah-mudahan upaya pemerintah Indonesia akhir-akhir ini dapat mencegah terjadinya chaos yang berujung pada anomi

Artikel ini sekedar mengingatkan bahwa keadaan masyarakat kita tengah berada pada kondisi yang rapuh yang ditandai dengan meningkatnya perceraian dan adanya fenomena single parent. Tetapi saya tidak mengajak para pembaca untuk membenci kehidupan para single parent, sebaliknya marilah kita hargai perjuangan mereka yang tengah berupaya keras mempertahankan kerusakan nilai-nilai kekeluargaan dan tetap mempertahankan meskipun dalam bentuk yang paling minimal (smart). Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah bercerai dari isteri-isteri dan suami-suami mereka, tetapi memiliki tanggungjawab mengurus anak, teruskan perjuangan muliamu itu demi peradaban manusia.
     
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar