Selasa, 18 September 2012

TEKANAN: Paradoks Dua Unsur Dalam Diri

Saat saya menulis bagian ini, saya berada pada situasi dimana volume kerja pada tingkatan yang cukup tinggi. Saya baru saja menjalankan sebuah amanah yang dialamatkan pada pundakku sebagai pikulan dalam karier yang selama ini kujalani. Amanah itu kukerjakan selama satu minggu. Sendirian. Beberapa orang yang lain sudah diberikan tugas mengerjakan bagian yang seharusnya dikerjakan. Tetapi belum juga terwujud. Konsekuensinya, aku harus menyediakan waktu, pikiran dan uang yang cukup untuk mengerjakan seluruh amanah itu sampai tiba waktu yang ditentukan itu datang. Singkatnya, tugasku berhasil dengan susah payah. Mereka yang diberikan tugas membantuku justru mengolok-olok seraya minta bagian yang dianggap sebagai jerih payah bersama yang harus dibagikan merata. Padahal, untuk merampungkan semuanya, separuh pengembalian biaya yang kukeluarkan dari kantong pribadiku belum cukup menutupi total pengeluaran. 

Desakan kebutuhan sehari-hari adalah urusan paling mendasar. Jika seminggu tak mengerjakan suatu pekerjaan produktif, maka jelaslah saya harus mengejar tujuh hari untuk menebus kondisi yang terabaikan itu. Semakin hari berganti, semakin kuat tekanan. Teknik bersusun teknik digunakan mengejar ketertinggalan pun seakan-akan tiada manfaatnya. Barangkali hanya sesuatu yang tak terdugalah yang bisa menangkis tekanan-tekanan itu. 

Pada situasi sedemikian rupa, saya mendapat tawaran kerjasama dari Tim Peneliti yang dipimpin oleh Dr Alex Ulaen. Dia seorang peneliti budaya di Universitas Sam Ratulangi Manado. Saya diundang ke sebuah pertemuan yang membahas persiapan kegiatan penelitian dan kepadaku diberikan tugas oleh ketua kelompok Dr Ivan Kaunang untuk menyusun proposal penelitian tentang kearifan lokal yang berkaitan dengan pembentukan watak dan karakter bangsa. Hanya empat hari waktu yang diberikan. Sementara aku harus mengejar target lama yang belum terkejar. Tepat pada hari ketiga, pekerjaan itu kelar. Di sela-sela pengerjaannya kusisipkan waktuku untuk merumuskan beberapa pekerjaan serupa dengan hasil yang cukup untuk menjawab kebutuhan dasar keluargaku. Beberapa kali aku berhenti dan kemudian berpikir jauh ke belakang ketika masih kecil. Aku tidak pernah mengalami tekanan sehebat ini. Sebab pada masa itu, anak-anak seperti kami sudah bisa mengatasi kebutuhan ekonomi keluarga meskipun dengan memungut buah pala yang jatuh dari pohonnya. Kami sudah bisa makan. Di sini, di kota ini. Saat ini, saya harus menekan tuts laptop dari pagi sampai pagi. Kalau tidak demikian, saya dan tanggungjawab saya akan stag di tempat yang suram. 

Dalam bentuk yang berbeda, tekanan di hati. Hatiku pun menuntut makna perhatian dan kasih sayang. Aku seperti sedang berhadapan dengan kebencian yang besar ketika hatiku menuntut. Tiba-tiba logika berbicara lain dari sanubariku. Tak boleh sedikit ada yang mencurigakan. Aku langsung mendikte. Sungguh antara hati dan logika itu adalah jurang yang amat lebar. Kelak, mampukah diri ini mempersempit jurang itu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar